Sabtu, 29 Oktober 2011

Hasil diskusi dan tanya jawab presentasi kel 6 (Asas-asas layanan bimbingan "konseling")

Secara umum, presentasi kali ini membahas mengenai hal-hal yang harus diperhatikan di dalam komunikasi antarpribadi di dalam konseling, kondisi eksternal (setting ruangan), kondisi internal (bagaimana sikap, kepercayaan dan kepribadian konseli dan konselor berpengaruh terhadap sesi konseling), teknik-teknik konseling verbal dan nonverbal beserta bagaimana peran tenaga pengajar di dalam proses konseling. Berikut ini akan dibahas pertanyaan yang muncul di sesi :

TANYA JAWAB
Teknik-teknik di dalam konseling dapat dibedakan menjadi dua yaitu teknik konseling verbal dan teknik konseling nonverbal. Tidak harus semua teknik digunakan di dalam proses konseling, teknik tersebut dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan, misalnya : teknik probing dapat digunakan ketika konseli hanya memberikan informasi yang sangat terbatas kepada konselor, contoh :
Konseli (Ki) : Saya merasa sedih..
Konselor (Kr) : Apa yang membuat anda merasa sedih?
Ki : keluarga..
Kr : Apa yang terjadi di dalam keluarga?
Setiap teknik memiliki manfaat masing-masing sehingga tidak dapat dikategorikan mana teknik yang paling penting.

ROLE PLAY
Sesi presentasi pada hari selasa tanggal 25 Oktober 2011 (kamis) diisi dengan sesi role play dimana semua peserta presentasi ikut serta di dalam role play sehubungan dengan teknik konseling verbal yang ada di buku. Peserta dibagi ke dalam 3 kelompok, dan setiap kelompok menyusun role play yang berkaitan dengan teknik-teknik konseling tersebut. Tujuan diadakannya role play adalah membuat peserta lebih semangat di dalam mengikuti jalannya presentasi, selain itu peserta dapat lebih memahami teknik-teknik konseling dengan cara mempraktikkannya. Berikut adalah hasil dokumentasi dari sesi role play :


Kelompok 1






kelompok 2




Kelompok 3


Daftar Pustaka
Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:
Media Abadi.

Kelompok 6
Winda Dwiastuti (08-025)
Septi Utami Anugrah (08-047)
Regina Ophelia (08-071)
Sabethia Maristhella (08-109)
Astri Megah Krista (08-118)

Rabu, 26 Oktober 2011

Asas-asas layanan bimbingan konseling (kel 6)

Slide asas-asas layanan bimbingan konseling (pptx/2007)
Slide asas-asas layanan bimbingan konseling (ppt/2003)

Kelompok 6
Winda Dwiastuti (08-025)
Septi Utami Anugrah (08-047)
Regina Ophelia (08-071)
Sabethia Maristhella (08-109)
Astri Megah Krista (08-118)

Layanan Bimbingan "Pemberian informasi"

Secara umum, informasi yang diberikan di dalam suatu layanan bimbingan bertujuan untuk membekali para siswa dengan data dan fakta yang ada di bidang sekolah, bidang pekerjaan, dan bidang perkembangan pribadi-sosial, agar mereka bisa mengatur dan merencanakan kehidupan sendiri. Menurut Hoppock, informasi yang diberikan dapat digunakan oleh siswa sebagai :

- information use = membantu siswa untuk sekedar mengenal alternatif-alternatif yang ada dan variasi kondisi yang berlaku. Informasi mengenai deskripsi singkat tentang mata kuliah dan berapa beban sks dari setiap mata kuliah di buku ungu dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dipelajari dari mata kuliah yang akan diambilnya setiap semester.

-assurance use = untuk memantapkan keputusan yang sedikit banyak sudah diambil . Mahasiswa yang masih ragu-ragu mengenai mata kuliah pilihan yang akan diambil dapat menggunakan informasi yang diberikan oleh dosen PA mengenai sisi positif dan negatif dari mata kuliah tertentu untuk memantapkan pilihan mata kuliah yang akan diambilnya.

-evaluative use = untuk mengecek ketelitian dan kesesuaian pengetahuan yang sudah dimiliki. Diskusi atau belajar bersama dengan teman sekelas dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai pelajaran tertentu; dan secara tidak langsung kita dapat mengcrosscek apakah informasi mengenai pelajaran tertentu sudah benar.


Data dan fakta yang disajikan kepada mahasiswa sebagai informasi dapat dibagi ke dalam beberapa tipe :

1. informasi tentang dunia pekerjaan. Sewaktu kuliah, pernah ada acara temu ramah alumni dimana beliau bekerja di suatu lembaga dan mensharing informasi mengenai apa yang bisa dilakukan mahasiswa psikologi setelah tamat.

2. informasi tentang pendidikan sekolah. Kami pernah diberikan informasi mengenai beasiswa untuk melanjutkan sudi S2 psikologi. Dari beasiswa tersebut, dicantumkan lengkap tentang persyaratan yang dibutuhkan untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Kami juga diberikan link website untuk mencari beasiswa.


Bentuk bahan informasi ada 4 yaitu :

- lisan = pengalaman yang disharing dosen PA merupakan bentuk informasi secara lisan

- tulisan = pengumuman mengenai jadwal ujian, jadwal ganti kuliah di mading merupakan bentuk informasi tertulis.

- audiovisual = kuliah dengan metode menonton film tertentu merupakan salah satu contoh informasi di dalam bentuk audiovisual. Informasi yang ada di dalam film tersebut adalah bentuk informasi audiovisual.

- disket program komputer = program di website fakultas psikologi untuk memudahkan mahasiswa dalam mencari nama dan NIM mahasiswa di fakultas psikologi.


Berikut ini akan dibahas harapan mahasiswa terhadap layanan bimbingan "pemberian informasi" di fakultas psikologi USU.

Tipe-tipe informasi yang dapat diberikan kepada mahasiswa, salah satunya adalah :

- informasi tentang proses perkembangan manusia muda serta pemahaman terhadap sesama manusia. Terkadang ada mahasiswa psikologi yang stress dikarenakan tugas yang terlalu banyak, stress ini sebenarnya bukan disebabkan oleh beban tugas yang berlebihan melainkan kemampuan mahasiswa dalam meregulasi diri. Fakultas psikologi dapat mengadakan training kepada mahasiswa tentang bagaimana meregulasi diri di dalam belajar.

-Ada juga mahasiswa yang aktif di dalam organisasi dan terkadang mereka mengalami kesulitan untuk membagi waktu antara kuliah dan berorganisai; mahasiswa ini dapat dibantu dengan pemberian training mengenai bagaimana membagi waktu antara kuliah dan berorganisas. Selain belajar,mahasiswa juga perlu memperluas network melalui kegiatan berorganisasi di kampus

- informasi tentang pendidikan sekolah. Badan yang dibentuk untuk memberikan informasi kepada mahasiswa yang akan melanjutkan studi jenjang S2 di luar negeri.


Bentuk informasi ada 2 yaitu :

- informasi dalam bentuk tertulis. Buku Ungu merupakan salah satu sumber informasi yang terpercaya dan alangkah baiknya jika buku tersebut dapat diupdate setiap tahun.

- informasi dalam bentuk program komputer. Dunia pekerjaan merupakan tempat bagi mahasiswa yang sudah tamat. Dengan beban sks yang mencapai 144 sks dan jumlah mata kuliah yang banyak, alangkah baiknya jika ada sutau program yang dapat memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai pekerjaan yang dapat didapatkannya jika kita mengambil mata kuliah tertentu.


Daftar Pustaka

Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Tenaga Bimbingan di sekolah (Bimbingan dan Konseling 3)

Tenaga bimbingan di sekolah mengalami kemajuan pesat dari yang dulunya hanya melibatkan kepala sekolah dan guru; dan sekarang melibatkan tenaga administrasi dan masyarakat. Ada 3 kelompok personil bimbingan berdasarkan taraf keterlibatan dan sifat tugas :
  1. Tenaga Bimbingan utama : konselor sekolah, tenaga paraprofesional dan guru.
  2. Tenaga administrasi bimbingan terdiri dari petugas struktural dan memikul tanggungjawab sebagai perencana, koordinator, pengawas dan evaluator, meliputi Koordinator Bimbingan, Kepala sekolah, dan Pejabat Kantor Wilayah atau Pejabat Yayasan.
  3. Tenaga yang menunjang : ahli psikometrik, psikolog sekolah, pekerja sosial, ahli pengajaran remedial, dokter sekolah dan psikiater.
Klasifikasi personil bimbingan ada 3 yaitu :
  1. Konselor sekolah : seseorang yang sudah berkualifikasi di dalam hal bimbingan.
  2. Guru pembimbing atau guru-konselor : seseorang yang memiliki jabatan sebagai guru bidang studi dan sekaligus konselor.
  3. Guru : Guru dapat memegang peran utama di dalam bimbingan tergantung dari pola generalis atau spesialis yang dianut sekolah.
  4. Sumber tenaga penunjang : psikolog , dokter
Perbedaan antara bimbingan dan arahan
Arahan merupakan petunjuk untuk melakukan sesuatu sedangkan bimbingan mencakup arahan, bantuan dan adanya pemantauan terhadap orang yang diberi bimbingan, apakah dia telah mencapai tujuan yang diarahkan. Dapat disimpulkan bahwa arahan adalah bagian dari bimbingan.

Menurut saya, bimbingan dan konseling sekolah di luar negeri berbeda dengan bimbingan dan konseling sekolah di Indonesia, misalnya saja dari segi kurikulum yang digunakan sekolah. Salah satu masalah yang dihadapi anak-anak sekolah adalah kesulitan dalam memahami pelajaran sekolah. Bagaimana kurikulum yang dipakai sebuah sekolah akan berefek kepada bagaimana murid menguasai sebuah pelajaran dan secara tidak langsung dapat berdampak kepada kesulitan belajar yang dialami siswa.

Daftar Pustaka
Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Ruang lingkup Bimbingan (Bimbingan dan Konseling 2)

Bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat keputusan yang bijaksana dan dalam penyesuaian diri, serta dalam memecahkan masalah kehidupan mereka yang bertujuan agar penerima bantuan dapat berkembang mandiri dan mampu bertanggung jawab.
Konseling adalah proses interaksi yang memfasilitasi pengertian menyeluruh mengenai diri sendiri dan lingkungan, dan menghasilkan pencapaian dan klarifikasi dari goal dan nilai-nilai sebagai pedoman perilaku di masa depan. (Shertzer dan Stone, 1980).
Bimbingan dan konseling memiliki perbedaan dari tenaga yang menyelenggarakan. Bimbingan dapat dilakukan oleh orang tua,guru,wali kelas, kepala sekolah dan orang dewasa lainnya sedangkan konseling hanya dapat dilakukan oleh tenaga professional.

Perbedaan bimbingan konseling di sekolah dan di luar sekolah
Bimbingan di sekolah berfokus pada masalah yang dihadapi oleh siswanya (masalah yang ditangani merupakan masalah yang dapat menganggu proses belajar atau prestasi siswa) sedangkan bimbingan di luar sekolah berfokus pada masalah yang lebih luas, misalnya : bimbingan tentang bahaya narkoba.
Target utama di dalam bimbingan di sekolah adalah siswa sedangkan target dari bimbingan di luar sekolah adalah masyarakat.

Daftar Pustaka
Sukadji, Soetarlinah.2000. Psikologi Pendidikan & Psikologi Sekolah. Depok : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Selasa, 11 Oktober 2011

Program Bimbingan di sekolah (Bimbingan dan Konseling 1)

Bimbingan dan konseling perlu diberikan sejak dini, tujuannya agar permasalahan bisa segera teratasi dan tidak berlanjut di masa depan. Oleh karena itu, bimbingan dan konseling dapat diberikan mulai dari jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Berikut ini , akan dibahas mengenai bimbingan dan konseling di beberapa tingkatan pendidikan.

Bimbingan di TK
Tujuan utama bimbingan di TK adalah membantu anak agar :
(1) anak dapat membantu dirinya sendiri untuk mengadakan penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial
(2) anak mampu melewati saat-saat transisi, dari lingkungan keluarga/rumah ke lingkungan teman sebaya dan guru/sekolah; dari suasana bebas ke suasana disiplin dan menghargai hak orang lain

Bimbingan di SD
Tujuan utama bimbingan di SD adalah membantu anak
(1) menguasai bahan ajaran tuntutan kurikuler
(2) membuat pilihan dan menentukan bahan ajaran yang cocok
(3) memiliki sikap pandangan belajar yang mendukung
(4) mempunyai pola prilaku belajar yang mendukung
(5) memilih teman bergaul, dan membentuk kelompok belajar yang serasi
(6) mengadakan penyesuaian hidup berkelompok yang menunjang belajar
(7) memecahkan masalah belajar yang dihadapi murid.

Bimbingan sejak SD dibilang cukup efektif karena
(1) anak-anak masih fleksibel dan masalah belum sempat berakar dalam
(2) pada masa ini orang tua lebih melibatkan diri dengan pendidikan anak dan pendidikan di sekolah
(3) masih banyak waktu bagi anak untuk dapat mempelajari pendekatan pemecahan masalah yang sehat

Bimbingan di SMP
Bimbingan di SMP akan membahas masalah seputar :
1.Bimbingan yang berkaitan dengan penyesuaian pendidikan
Siswa SMP yang pertama kali masuk ke sekolah dihadapi dengan banyak tantangan, dimana mereka harus menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan, lingkungan belajar, guru, dan teman-teman. Selain itu, SMP merupakan tahapan penting dikarenakan mereka akan menentukan apakah mereka akan melanjutkan ke masa SMA atau SMK
2.Bimbingan yang berkaitan dengan perkembangan pribadi
Siswa SMP berada dalam kondisi emosional yang kurang stabil sehingga mereka membutuhkan bantuan untuk tumbuh ke arah “kematangan emosional”, artinya kemampuan mengarahkan emosi dasar yang kuat ini ke penyaluran yang baik, emosi tersebut diarahkan ke hal-hal yang baik.

Secara rinci, bimbingan dan konseling di sekolah lanjutan tingkat pertama ditujukan untuk mengatasi permasalahan, seperti tercantum dalam kurikulum 1975 (dikutip dari Mapiare, 1984:292-293):
  1. Mengatasi kesulitan dalam memahami diri sendiri
  2. Mengatasi kesulitan dalam memahami lingkungannya
  3. Mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasikan dan memecahkan masalah yang dihadapi
  4. 4. Mengatasi kesulitan dalam menyalurkan kemampuan, minat dan bakat dalam bidang pendidikan dan kemungkinan pekerjaan secara tepat

Bimbingan di SMA
Tujuan bimbingan dan konseling di sekolah lanjutan tingkat atas secara rinci adalah sebagai berikut (Mapiare, 1984:302-304):
  1. Mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri yang berkaitan dengan (a) pengetahuan yang dicapai bagi kelanjutan studi, (b) keterampilan yang dicapai bagi jabatan pekerjaan, (c) sikap yang dimiliki bagi komunikasi dalam hubungan sosial
  2. Mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi ciri-ciri dan tuntutan sekolah kini dan prospek mendatang
  3. Mengatasi kesulitan dalam menguasai pengetahuan tuntutan sekolah
  4. Mengatasi kesulitan dalam mengidentifkasi ciri-ciri dan tuntutan berbagai jenis karir dan lapangan kerja kini dan prospek mendatang
  5. Mengatasi kesulitan dalam menguasai keterampilan-keterampilan tertentu yang dituntut suatu jenis karir dan lapangan kerja
  6. Mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi ciri-ciri dan tuntutan lingkungan sosial kini dan prospek mendatang
  7. Mengatasi kesulitan dalam menguasai sikap-sikap hormat dan penghargaan yang diharapkan lingkungan sosial tertentu
  8. Mengatasi kesulitan dalam membuat keputusan arah mengenai pilihan kelompok mata pelajaran bagi kemungkinan kelanjutan studi, atau kemungkinan karir, dan arah pilihan bagi kemungkinan calon pasangan hidup serta dalam mengadakan penyesuaian dengan orang tua, masyarakat sekolah dan masyarakat luas

Daftar Pustaka
Sukadji, Soetarlinah.2000. Psikologi Pendidikan & Psikologi Sekolah. Depok : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Selasa, 21 Desember 2010

UAS ONLINE

Metode mengajar dosen dalam mata kuliah Psikologi belajar

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Menurut pendekatan ini, anak belajar paling baik melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan yang alamiah. Dalam kelas kontekstual, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.

Aplikasi dari proses mengajar dengan ketujuh komponen utama pendekatan kontekstual.

Pendekatan kontekstual memiliki 7 komponen utama :

komponen konstruktivisme (constructivism)

Pada tahap ini, murid mengkonstruksi apa yang mereka pelajari, dan murid sebaiknya mampu mengkonstruksi dan mentransformasikan informasi ini menjadi milik mereka. Ketika kuliah psi belajar, dosen memberikan kami tugas meresume setiap topik sebelum masuk kelas. Tujuannya agar mahasiswa secara aktif mengkonstruk/membangun pengetahuan mereka mengenai topik tersebut. Dengan membuat resume, dosen memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan dan menemukan ide tentang topik yang akan dibahas dan hal ini dapat memicu kami dalam membuat skema (proses akomodasi tentang topik baru). Ketika belajar teori tertentu, dosen juga memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini untuk menyadarkan kami bahwa kami bisa menerapkan teori yang kami pelajari dalam kehidupan sehari-hari.


komponen inkuiri (inquiry)

komponen ini menyatakan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh siswa merupakan hasil penemuan siswa sendiri bukan mengingat seperangkat fakta. Agar membantu kami menemukan informasi sendiri, dosen merancang tugas seperti "observasi ke sekolah". Tugas Observasi ke sekolah merupakan tugas yang bertujuan agar kami dapat melihat dan menemukan inti dari semua teori yang kami pelajari (kami ditugaskan untuk mengaplikasikan teori yang kami pelajari ke dalam hasil observasi). Sewaktu diskusi tentang pengertian proses dan sistem Pask, dosen memberikan kami petunjuk mengenai pengertian tersebut akan tetapi untuk memantapkan pemahaman kami, kami harus mencari di sumber lain.

komponen bertanya (questioning)

Bertanya merupakan strategi utama dalam pembelajaran kontekstual.
Dalam setiap kesempatan, dosen selalu meminta mahasiswa untuk aktif bertanya agar dosen dapat mengetahui sejauh mana pemahaman kami. Sesi presentasi di kelas selalu diikuti dengan sesi tanya jawab. Dosen juga sangat aktif dalam menstimulasi kami dengan bertanya kepada kami pertanyaan seputar topik yang dibahas hari ini. Misalnya : " apa yang anda ketahui tentang Thorndike?", pertanyaan itu diajukan kepada kami sewaktu kuliah tokoh teori belajar Thorndike dan Skinner. Tujuan dari bertanya supaya dosen dapat mengecek pemahaman siswa, menstimuli siswa agar aktif bertanya, merefresh apa yang pernah dipelajari siswa, dan lain-lain


komponen masyarakat belajar (learning community)

Komponen ini melibatkan kerja sama dengan orang lain akan tetapi dalam hal ini siswa berinterkasi dengan siswa lain merupakan contoh masyarakat belajar. Prasyarat terbentuknya masyarakat belajar adalah proses komunikasi 2 arah yaitu adanya sharing antar teman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Dalam kelas psi belajar, dosen membagi kami ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari 2-3 orang dimana kami diberi tugas presentasi dan kunjungan ke sekolah. Presentasi merupakan salah satu bentuk masyarakat belajar dimana kelompok presentasi menyampaikan materi yang mereka ketahui kepada teman-teman yang lain (antara yang tahu ke yang belum tahu). Sebelum presentasi, kelompok juga melakukan diskusi informal (di luar jam kuliah) untuk mensharing informasi yang belum dimiliki oleh anggota kelompok, saling tukar pikiran dan saling membantu anggota kelompok yang belum memahami materi yang nantinya akan kelompok presentasikan.

komponen pemodelan (modelling)

Pada komponen ini "model" merupakan kunci dalam membantu proses belajar. Model bisa berupa cara melakukan sesuatu, benda-benda, karya inovasi, dan lain-lain. Dalam proses kuliah psi. belajar, model yang lebih sering muncul adalah teman-teman (selesai presentasi kelompok, dosen memberikan feedback dan hal itu memicu kami untuk memodelling teman-teman yang presentasinya baik), selain itu cara dosen mengajar ataupun menerangkan suatu topik dapat menjadi model bagi mahasiswa dalam memperbaiki gaya presentasi. Pada saat tugas observasi ke sekolah, dosen menunjukkan blog masing-masing kelompok, tujuannya agar kami bisa memodeling blog yang baik dan memperbaiki kekurangan kami.


komponen refleksi (reflection)

Komponen ini cukup penting dalam proses belajar kontekstual karena refleksi adalah bagaimana mahasiswa dapat menerapkan apa yang baru dipelajari dan apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu ke dalam aktivitas sehari-hari. Tugas guru di sini adalah untuk membantu siswa membuat jembatan antara apa yang sudah dipelajari dengan yang baru dipelajari. Salah satu cara dosen membantu kami ialah dengan menanyakan tokoh teori belajar yang kami pelajari minggu lalu ke dalam pertemuan hari ini, misalnya : sebelum mempelajari tokoh Bruner mengenai "discovery learning", kami diajak kilas balik ke tokoh Ausubel ( topik yang dipelajari minggu lalu) agar kami tidak kebingungan karena kedua tokoh ini hampir serupa. Perbandingan tokoh yang dibuat setiap kali presentasi 2 tokoh juga membantu pemahaman kami tentang tokoh-tokoh tersebut.

komponen penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)

Assessment dilakukan untuk melihat bagaimana gambaran perkembangan belajar siswa dalam kelas, dan biasanya dilakukan pada saat atau seudah proses belajar berlangsung. Assessment dapat berupa hasil karya siswa, quiz, demonstrasi dan laporan. Salah satu bentuk assessment yang dilaksanakan dalam mata kuliah ini adalah laporan kunjungan ke sekolah, tugas karya tulis tentang pengalaman belajar dikaitkan dengan topik teori belajar. Tujuannya untuk melihat sejauh mana pemahaman mahasiswa mengenai topik tertentu. Bisa juga berupa tanya jawab dengan dosen.

Referensi
Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran.Jakarta : Kencana.